Artikel

Persipura Jayapura Perjalanan Pencarian Pengakuan Salah Satu Klub Terbaik Indonesia

Administrator | Kamis, 04 Mei 2017 - 15:19:13 WIB | dibaca: 402 pembaca

Orang telah tau, semua pun tau di lapangan hijau
Kini telah muncul di ufuk timur, mutiara hitam
Timo Kapisa, Johanis Auri, dan kawan-kawannya…
bermain gemilang, menerjang lawan dan selalu menang
Persipura, mutiara hitam…
Persipura, selalu gemilang

Bait di atas merupakan bagian dari lirik lagu yang berjudul Persipura. Sebuah lagu yang diciptakan oleh mendiang Hengky Sumantri Miratoneng, pentolan band Black Brother, salah satu band terbaik asal Papua, pada tahun 70-an. Lagu itu diciptakan dengan satu tujuan: memperkenalkan Persipura hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

Sekitar satu dekade sebelumnya, tepatnya pada awal tahun 60-an, PSKS (Persatuan Sepakbola Kotabaru dan Sekitarnya), klub yang diduga kuat menjadi cikal bakal Persipura, melakukan kunjungan ke Pulau Jawa untuk memperkenalkan diri. Albert Mandosir, pelatih PSKS pada saat itu, mengatakan, “Maksud kami datang ke Jakarta dan kota-kota lainnya (di Jawa) bukan untuk mencari kemenangan, tetapi untuk memperkenalkan diri dan belajar teknik sepakbola dari saudara-saudara kami yang begitu lama terpisah.”

Setelah itu, sekitar 47 tahun setelah lagu Persipura diciptakan, atau sekitar 57 tahun setelah PSKS melakukan kunjungan pertama mereka ke Pulau Jawa, Persipura tak perlu repot-repot mencari pengakuan. Saat ini, jika bukan yang terbesar, Persipura merupakan salah satu klub terbesar di tanah air.

 

Sekitar 57 tahun setelah PSKS melakukan kunjungan pertama mereka ke Pulau Jawa, Persipura tak perlu repot-repot mencari pengakuan. Saat ini, jika bukan yang terbesar, Persipura merupakan salah satu klub terbesar di tanah air.

Talenta-talenta pemain yang mereka miliki, yang mungkin banyak ditemukan melalui permainan patah kaleng, permainan sepakbola jalanan khas Papua, nyaris tak pernah habis. Selain secara terus menerus membantu Persipura berprestasi, mereka juga silih berganti mengenakan seragam timnas senior, sebuah seragam yang begitu diidam-idamkan oleh hampir semua pesepakbola di tanah air.

Goyangan samba warisan HB Samsi, salah satu tokoh yang mendidik anak-anak Papua bermain sepakbola, saat ini semakin kental dengan gaya permainan Persipura. Gaya permainan itu, selain membuat mereka berbeda dari tim-tim lain, juga membuat mereka sulit sekali untuk dikalahkan.

Secara singkat, layaknya proklamator handal, Persipura mulai mahir berbicara melalui sepakbola untuk menyihir banyak orang.

Dengan pendekatan seperti itu, dalam sejarah panjang kompetisi liga tertinggi Indonesia, Persipura berhasil menjadi juara empat kali, satu kali menjadi juara Liga Indonesia musim 2004/05 dan tiga kali menjadi juara Indonesia Super League (ISL) pada musim 2008/09, 2010/11, dan pada tahun 2013. Dan terakhir, mereka juga berhasil menjadi yang terbaik di Indonesia Soccer Championship (ISC) A yang baru berakhir beberapa waktu lalu.

image: https://images.cdn.fourfourtwo.com/sites/fourfourtwo.com/files/styles/inline-image/public/persipura_isl_0.jpg?itok=t0yxU-XP

Kini, Persipura telah menjelma menjadi salah satu kekuatan utama di sepakbola nasional

Peran besar HB Samsi dan Acub Zaenal

Pada tahun 60-an, HB Samsi hanyalah seorang guru di STM (Sekolah Teknik Negeri) Jayapura. Namun saat mengetahui murid-muridnya, seperti Hengki Heipon, Tinus Heipon, Bob Sapai, hingga Gento Rudolf Rumbino, mempunyai bakat hebat untuk bermain sepakbola, dengan modal kecintaannya terhadap sepakbola, guru asal Jawa Tengah tersebut gatal untuk melatih mereka bermain bola. Gaya melatihnya pun tak main-main, berkiblat pada gaya permainan samba Brasil yang saat itu sedang berada di titik tertinggi persepakbolaan dunia.

Bagi anak-anak Papua, gaya permainan seperti itu memang tak sulit untuk dipelajari. Pada dasarnya, anak-anak Papua memang senang bermain individu, yang terus mereka asah melalui permainan patah kaleng, di mana seorang pemain terbiasa melewati empat hingga lima pemain lawan. Untuk menyempurnakannya, mereka hanya perlu menambahkan umpan-umpan pendek dan permainan sayap seperti apa yang diajarkan oleh HB Samsi.

Persipura yang sebelumnya bernama Persikobar (Persatuan Sepakbola Kotabaru) lahir pada 1963 dan pelatih pertama tim tersebut adalah HB Samsi yang dikelilingi para pemain bertalenta seperti Ari Sokoi (kiper); Dominggus Nai, Toni Marisan, Theo Daat, Yan Ui, Dominggus Waweyai, Dolf Rumbino, Willem Mariawasih, Gasper Sibi, Agustinus Pui, Adolof Hanasbe, Barnabas Youwe, Yan Wader, Benny Yensenem dan Korwa. Nama Persikobar berubah lagi pada 23 Mei 1965 menjadi Persipura (Persatuan Sepakbola Sukaranopura atau sekarang Jayapura). Kemudian pelatih Kepala HB Samsi kemball lagi melatih Persipura pada Liga Indonesia 1995. Sebelumnya HB Samsi dan Hengki Rumere, melatih dan merekrut anak-anak berbakat di PPLP –Irian Jaya pada 1986. Mereka berdua melatih angkatan pertama PPLP Irian Jaya yaitu, Cristian Leo Jarangga, Ronny Wabia, Izak Fatari, Ritham Madubun, Aples Tecuari, Ferdinando Fairyo, Carolino Ivakdalam, Johanes Bonay, David Saidui. “Sejak menukangi Persipura, pak Samsi lebih banyak memakai metode dan gaya samba Brasil,” tutur Fred Imbiri mantan anak didik HB Samsi yang pernah memperkuat timnas dan klub Warna Agung Jakarta . skema yang diterapkan dimulai dari umpan-umpan pendek hingga mengandalkan kecepatan pemain sayap. Namun yang jelas kata mendiang Tinus Heipon adik kandung Hengki Heipon, yang menjadi ciri khas anak-anak Papua dalam bermain bola adalah bakat alam dan suka main goreng (gocek) atau terlalu individu. Parahnya lagi dalam permainan sepakbola tradisional ala Papua (Patah Kaleng) jika seorang anak mampu goreng sampai lima orang pemain termasuk kategori jagoan atau hebat bermain bola. Jadi jangan heran kalau ada anak Papua yang egois dalam bermain bola karena pengaruh tradisi sepakbola patah kaleng. Permainan patah kaleng ini sekarang sudah tak digemari lagi karena permainan gawang mini dan futsal sudah menggeser sepakbola patah kaleng. Keberangkatan Hengki Heipon ke Jerman Barat pada 1978 untuk mengikuti kursus kepelatihan di sana selama sebulan penuh bersama Abdul Kadir yang juga merupakan mantan striker timnas Indonesia, membuat beberapa pihak saat itu menilai gaya Samba Persipura bergeser ke gaya bermain Jerman. Namun hal ini dibantah Hengki Heipon, bagi Hengki gaya bermain Persipura adalah paduan antara bakat alam dan polesan teknik dasar sepakbola. Disamping itu tubuh pemain bola Papua sangat khas. Misalnya mereka yang berasal dari Kepala Burung Papua seperti Boaz dan Metu Dwaramuri memiliki postur tubuh yang lentur. Begitu pula anak-anak dari Teluk seperti Christ Leo Jarangga, Octo Maniani yang cepat bergerak. Hingga perpaduan keduanya menimbulkan ciri khas tersendiri bagi Persipura. Namun demikian Hengki Heipon tak memungkiri peran HB Samsi sebagai peletak dasar sepakbola Samba di Persipura. Selain HB Samsi, peran almarhum Brigjen Acub Zainal juga sangat besar. Acub Zainal pula yang mendatangkan pelatih asing asal Singapura Choi Song On pada 1974-1975. Bahkan ketika Persipura mewakili Indonesia ke Saigon (sekarang Ho Chi Min City) Vietnam Selatan pada 1974, Acub Zainal-lah yang sukses membawa penjaga gawang Persema Malang, Suharsoyo untuk memperkuat skuad Persipura. Lepas dari peran dan perkembangan sepakbola di Papua sebenarnya semua pihak ikut pula memberi andil namun yang paling berperan dalam meletakan dasar sepakbola Samba di Persipura adalah mantan guru asal Jawa Tengah HB Samsi. Tak heran kalau sekarang JF Tiago pelatih Brasil merasa ada kemiripan sepakbola Brasil dan Persipura karena sejak lama tradisi bermain bola ala Samba sudah diterapkan di sana. (gk-34) Keberhasilan Persipura tampil sebagai juara LI XI (2005) digembar-gemborkan oleh beberapa media massa nasional sebagai ulangan keberhasilan 25 tahun lalu. Bahkan ada pula yang menulis duel versus Persija itu merupakan ulangan final 1979. Tapi, benarkah demikian? Menurut penelusuran penulis, Persipura dan Persija hanya bertemu sekali di partai puncak yakni pada Piala Soeharto III/1976. Dan itu bukanlah trofi yang diperebutkan dalam kompetisi Perserikatan. Lalu, apakah benar bahwa Persipura pernah menjuarai kompetisi Perserikatan tahun 1979 atau 1980? Buat pecinta sepak bola, yang dimaksud kompetisi Perserikatan tentu adalah Divisi Utama Perserikatan. Bukan Divisi I atau II. Sampai dengan akhir tahun 1970-an, kompetisi Perserikatan yang masih bernama Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI itu, diikuti oleh seluruh tim Perserikatan. Seluruh tim, bertanding dari bawah mulai dari tingkat rayon, antar rayon, zona, antar zona, wilayah sampai pada tingkat nasional. Kecuali, tim yang tampil di tingkat nasional periode sebelumnya, hanya bertanding mulai tingkat zona atau wilayah. Penulis akan fokus membahas Kejurnas PSSI 1978. Pada periode ini, kejurnas tingkat nasional diikuti 18 tim dan terbagi ke dalam 4 pool. Juara dan runner-up tiap grup itu berhak tampil di putaran 8 besar yang juga akan dibagi menjadi dua grup. Sebelum semifinal antara PSM versus Persebaya dan Persija vs PSMS, Maulwi Saelan (Sekretaris Umum PSSI saat itu) mengatakan bahwa kompetisi periode berikutnya akan diikuti lima tim, yang empat tiketnya diambil dari tim semifinalis. Nama kompetisi pun menjadi Kejurnas Utama PSSI. Kejurnas yang digelar 1978-79 inilah cikal bakal lahirnya Divisi Utama Perserikatan. Sebagai catatan, Divisi I mulai digelar pada 1979, Divisi II (1987), dan Divisi III (2005). Untuk melengkapi peserta, maka PSSI memutuskan menggelar pertandingan antara peringkat ketiga tiap grup di putaran 8 besar. Akhirnya, Persiraja menjadi tim kelima setelah mengalahkan Persib 2-1. Setelah peserta lengkap, Kejurnas Utama PSSI 1978-79 pun digelar. Dalam kompetisi itu tidak dikenakan aturan degradasi. PSSI malah akan menambah satu tim lagi pada Divisi Utama Perserikatan 1980 yang diambil dari tim promosi “Divisi I”. Padahal, pada saat itu Divisi I belum terselenggara. Karena Divisi I belum ada, PSSI menyelenggarakan putaran final 12 besar yang dinamakan Kejurnas PSSI 1979. Keduabelas tim tersebut merupakan juara setiap zona, yaitu PSKB Binjai (I), PSP (II), PSTT Tanjungkarang-Telukbetung (III), Persija Selatan/Barat (IV), Persib (V), PSIS (VI), Perseba Bangkalan (VII), Perseden (VIII), Persigowa Gowa (IX), Persipal Palu (X), PSHL Hitu Liu (XI), dan Persipura (XII). Putaran final 12 besar yang merupakan cikal bakal lahirnya Divisi I berlangsung di tiga kota, yakni Magelang (Pool A), Solo (B), dan Semarang (C). Peserta dibagi dalam tiga grup. Juara dan runner-up tiap grup maju ke putaran final 6 besar (perempatfinal) dan dibagi dalam dua grup. Juara dan runner-up grup di babak perempat final maju ke babak semifinal secara silang. Tim pemenang babak semifinal maju ke babak final, sedangkan tim yang kalah saling memperebutkan peringkat ke-3. Pertandingan perempat final, semifinal, dan final berlangsung di Semarang. Di babak final, Persipura mengalahkan Persipal 4-0. Akhirnya, Persipura berhasil merebut tiket promosi. Keberhasilan Persipura menjadi juara putaran final 12 besar Kejurnas PSSI 1979 inilah yang disalahtafsirkan oleh sebagian masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, termasuk media massa, sebagai juara (Divisi Utama) Perserikatan. Hebatnya lagi, sebagai tim yang baru promosi, Persipura langsung melaju final melawan Persiraja. Sayang, pada grandfinal di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta (31/8/80), Persipura harus puas menjadi runner-up setelah kalah 1-3. dan juga Sebagai catatan tambahan, Persipura pernah merebut Piala Soeharto III/1976 (vs Persija Jakarta Pusat 4-3) dan menjuarai Divisi I, selain 1979 (vs Persipal Palu 2-1), juga 1993 (vs Persiku Kudus 3-0). Keberhasilan Persipura menjuarai Soeharto Cup membuat Black Brothers (1976) mengangkat “Persipura” sebagai lagu pembuka di album perdana mereka pada tahun 1976. Pada waktu itu, Andi Ayamiseba baru saja membawa seniman-seniman terbaik asal Papua ke Jakarta rekaman di Studio Irama Tara Jaksel. Pasukan hitam ini menciptakan sejumlah lagu yang masih kokoh tak termakan jaman. Diantaranya, Hengky MS ciptakan lagu Persipura, Oh Sonya, Jayapura di Waktu Malam, Kisah Seorang Pramuria. Sedangkan organis Yochy Patipeiluhu ciptakan lagu Kali Kemiri, Putus Ditengah Kerinduan, Balada Dua Remaja, Irian Jaya 1, dan Terjalin Kembali. Sementara Benny Bettay, Stevie Mambor, Amry M Kahar, David Rumagesang perkuat arensemen music yang tiada duanya. Tak lupa lagu Apuse karya Korinus Mandosir menjadi pilihan utama pada waktu itu. Lagu Persipura diciptakan oleh Hengky MS, ketika itu pria Manado besar Biak ini rupanya menyaksikan sejumlah pertandingan yang dilakoni Persipura pada piala Soeharto Cup III yang terakhir dimenangkan oleh Persipura atas lawannya Persija Jakarta. Sejak saat itu julukan Persipura sebagai Mutiara Hitam mulai ramai dikenal.(Sb/PF) Lagu Black Brothers : Persipura

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rudolfbonay/sepenggal-kisah-mutiara-hitam-persipura-jayapura_552b68dc6ea834bb3e8b456f
Persipura yang sebelumnya bernama Persikobar (Persatuan Sepakbola Kotabaru) lahir pada 1963 dan pelatih pertama tim tersebut adalah HB Samsi yang dikelilingi para pemain bertalenta seperti Ari Sokoi (kiper); Dominggus Nai, Toni Marisan, Theo Daat, Yan Ui, Dominggus Waweyai, Dolf Rumbino, Willem Mariawasih, Gasper Sibi, Agustinus Pui, Adolof Hanasbe, Barnabas Youwe, Yan Wader, Benny Yensenem dan Korwa. Nama Persikobar berubah lagi pada 23 Mei 1965 menjadi Persipura (Persatuan Sepakbola Sukaranopura atau sekarang Jayapura). Kemudian pelatih Kepala HB Samsi kemball lagi melatih Persipura pada Liga Indonesia 1995. Sebelumnya HB Samsi dan Hengki Rumere, melatih dan merekrut anak-anak berbakat di PPLP –Irian Jaya pada 1986. Mereka berdua melatih angkatan pertama PPLP Irian Jaya yaitu, Cristian Leo Jarangga, Ronny Wabia, Izak Fatari, Ritham Madubun, Aples Tecuari, Ferdinando Fairyo, Carolino Ivakdalam, Johanes Bonay, David Saidui. “Sejak menukangi Persipura, pak Samsi lebih banyak memakai metode dan gaya samba Brasil,” tutur Fred Imbiri mantan anak didik HB Samsi yang pernah memperkuat timnas dan klub Warna Agung Jakarta . skema yang diterapkan dimulai dari umpan-umpan pendek hingga mengandalkan kecepatan pemain sayap. Namun yang jelas kata mendiang Tinus Heipon adik kandung Hengki Heipon, yang menjadi ciri khas anak-anak Papua dalam bermain bola adalah bakat alam dan suka main goreng (gocek) atau terlalu individu. Parahnya lagi dalam permainan sepakbola tradisional ala Papua (Patah Kaleng) jika seorang anak mampu goreng sampai lima orang pemain termasuk kategori jagoan atau hebat bermain bola. Jadi jangan heran kalau ada anak Papua yang egois dalam bermain bola karena pengaruh tradisi sepakbola patah kaleng. Permainan patah kaleng ini sekarang sudah tak digemari lagi karena permainan gawang mini dan futsal sudah menggeser sepakbola patah kaleng. Keberangkatan Hengki Heipon ke Jerman Barat pada 1978 untuk mengikuti kursus kepelatihan di sana selama sebulan penuh bersama Abdul Kadir yang juga merupakan mantan striker timnas Indonesia, membuat beberapa pihak saat itu menilai gaya Samba Persipura bergeser ke gaya bermain Jerman. Namun hal ini dibantah Hengki Heipon, bagi Hengki gaya bermain Persipura adalah paduan antara bakat alam dan polesan teknik dasar sepakbola. Disamping itu tubuh pemain bola Papua sangat khas. Misalnya mereka yang berasal dari Kepala Burung Papua seperti Boaz dan Metu Dwaramuri memiliki postur tubuh yang lentur. Begitu pula anak-anak dari Teluk seperti Christ Leo Jarangga, Octo Maniani yang cepat bergerak. Hingga perpaduan keduanya menimbulkan ciri khas tersendiri bagi Persipura. Namun demikian Hengki Heipon tak memungkiri peran HB Samsi sebagai peletak dasar sepakbola Samba di Persipura. Selain HB Samsi, peran almarhum Brigjen Acub Zainal juga sangat besar. Acub Zainal pula yang mendatangkan pelatih asing asal Singapura Choi Song On pada 1974-1975. Bahkan ketika Persipura mewakili Indonesia ke Saigon (sekarang Ho Chi Min City) Vietnam Selatan pada 1974, Acub Zainal-lah yang sukses membawa penjaga gawang Persema Malang, Suharsoyo untuk memperkuat skuad Persipura. Lepas dari peran dan perkembangan sepakbola di Papua sebenarnya semua pihak ikut pula memberi andil namun yang paling berperan dalam meletakan dasar sepakbola Samba di Persipura adalah mantan guru asal Jawa Tengah HB Samsi. Tak heran kalau sekarang JF Tiago pelatih Brasil merasa ada kemiripan sepakbola Brasil dan Persipura karena sejak lama tradisi bermain bola ala Samba sudah diterapkan di sana. (gk-34) Keberhasilan Persipura tampil sebagai juara LI XI (2005) digembar-gemborkan oleh beberapa media massa nasional sebagai ulangan keberhasilan 25 tahun lalu. Bahkan ada pula yang menulis duel versus Persija itu merupakan ulangan final 1979. Tapi, benarkah demikian? Menurut penelusuran penulis, Persipura dan Persija hanya bertemu sekali di partai puncak yakni pada Piala Soeharto III/1976. Dan itu bukanlah trofi yang diperebutkan dalam kompetisi Perserikatan. Lalu, apakah benar bahwa Persipura pernah menjuarai kompetisi Perserikatan tahun 1979 atau 1980? Buat pecinta sepak bola, yang dimaksud kompetisi Perserikatan tentu adalah Divisi Utama Perserikatan. Bukan Divisi I atau II. Sampai dengan akhir tahun 1970-an, kompetisi Perserikatan yang masih bernama Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI itu, diikuti oleh seluruh tim Perserikatan. Seluruh tim, bertanding dari bawah mulai dari tingkat rayon, antar rayon, zona, antar zona, wilayah sampai pada tingkat nasional. Kecuali, tim yang tampil di tingkat nasional periode sebelumnya, hanya bertanding mulai tingkat zona atau wilayah. Penulis akan fokus membahas Kejurnas PSSI 1978. Pada periode ini, kejurnas tingkat nasional diikuti 18 tim dan terbagi ke dalam 4 pool. Juara dan runner-up tiap grup itu berhak tampil di putaran 8 besar yang juga akan dibagi menjadi dua grup. Sebelum semifinal antara PSM versus Persebaya dan Persija vs PSMS, Maulwi Saelan (Sekretaris Umum PSSI saat itu) mengatakan bahwa kompetisi periode berikutnya akan diikuti lima tim, yang empat tiketnya diambil dari tim semifinalis. Nama kompetisi pun menjadi Kejurnas Utama PSSI. Kejurnas yang digelar 1978-79 inilah cikal bakal lahirnya Divisi Utama Perserikatan. Sebagai catatan, Divisi I mulai digelar pada 1979, Divisi II (1987), dan Divisi III (2005). Untuk melengkapi peserta, maka PSSI memutuskan menggelar pertandingan antara peringkat ketiga tiap grup di putaran 8 besar. Akhirnya, Persiraja menjadi tim kelima setelah mengalahkan Persib 2-1. Setelah peserta lengkap, Kejurnas Utama PSSI 1978-79 pun digelar. Dalam kompetisi itu tidak dikenakan aturan degradasi. PSSI malah akan menambah satu tim lagi pada Divisi Utama Perserikatan 1980 yang diambil dari tim promosi “Divisi I”. Padahal, pada saat itu Divisi I belum terselenggara. Karena Divisi I belum ada, PSSI menyelenggarakan putaran final 12 besar yang dinamakan Kejurnas PSSI 1979. Keduabelas tim tersebut merupakan juara setiap zona, yaitu PSKB Binjai (I), PSP (II), PSTT Tanjungkarang-Telukbetung (III), Persija Selatan/Barat (IV), Persib (V), PSIS (VI), Perseba Bangkalan (VII), Perseden (VIII), Persigowa Gowa (IX), Persipal Palu (X), PSHL Hitu Liu (XI), dan Persipura (XII). Putaran final 12 besar yang merupakan cikal bakal lahirnya Divisi I berlangsung di tiga kota, yakni Magelang (Pool A), Solo (B), dan Semarang (C). Peserta dibagi dalam tiga grup. Juara dan runner-up tiap grup maju ke putaran final 6 besar (perempatfinal) dan dibagi dalam dua grup. Juara dan runner-up grup di babak perempat final maju ke babak semifinal secara silang. Tim pemenang babak semifinal maju ke babak final, sedangkan tim yang kalah saling memperebutkan peringkat ke-3. Pertandingan perempat final, semifinal, dan final berlangsung di Semarang. Di babak final, Persipura mengalahkan Persipal 4-0. Akhirnya, Persipura berhasil merebut tiket promosi. Keberhasilan Persipura menjadi juara putaran final 12 besar Kejurnas PSSI 1979 inilah yang disalahtafsirkan oleh sebagian masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, termasuk media massa, sebagai juara (Divisi Utama) Perserikatan. Hebatnya lagi, sebagai tim yang baru promosi, Persipura langsung melaju final melawan Persiraja. Sayang, pada grandfinal di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta (31/8/80), Persipura harus puas menjadi runner-up setelah kalah 1-3. dan juga Sebagai catatan tambahan, Persipura pernah merebut Piala Soeharto III/1976 (vs Persija Jakarta Pusat 4-3) dan menjuarai Divisi I, selain 1979 (vs Persipal Palu 2-1), juga 1993 (vs Persiku Kudus 3-0). Keberhasilan Persipura menjuarai Soeharto Cup membuat Black Brothers (1976) mengangkat “Persipura” sebagai lagu pembuka di album perdana mereka pada tahun 1976. Pada waktu itu, Andi Ayamiseba baru saja membawa seniman-seniman terbaik asal Papua ke Jakarta rekaman di Studio Irama Tara Jaksel. Pasukan hitam ini menciptakan sejumlah lagu yang masih kokoh tak termakan jaman. Diantaranya, Hengky MS ciptakan lagu Persipura, Oh Sonya, Jayapura di Waktu Malam, Kisah Seorang Pramuria. Sedangkan organis Yochy Patipeiluhu ciptakan lagu Kali Kemiri, Putus Ditengah Kerinduan, Balada Dua Remaja, Irian Jaya 1, dan Terjalin Kembali. Sementara Benny Bettay, Stevie Mambor, Amry M Kahar, David Rumagesang perkuat arensemen music yang tiada duanya. Tak lupa lagu Apuse karya Korinus Mandosir menjadi pilihan utama pada waktu itu. Lagu Persipura diciptakan oleh Hengky MS, ketika itu pria Manado besar Biak ini rupanya menyaksikan sejumlah pertandingan yang dilakoni Persipura pada piala Soeharto Cup III yang terakhir dimenangkan oleh Persipura atas lawannya Persija Jakarta. Sejak saat itu julukan Persipura sebagai Mutiara Hitam mulai ramai dikenal.(Sb/PF) Lagu Black Brothers : Persipura

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rudolfbonay/sepenggal-kisah-mutiara-hitam-persipura-jayapura_552b68dc6ea834bb3e8b456f










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)