Papua Sport

Olahraga untuk Perdamaian

george kaiba | Senin, 14 Agustus 2017 - 15:16:37 WIB | dibaca: 241 pembaca

Perhelatan akbar olimpiade memang telah berakhir hampir tiga bulan yang lalu. Meski diiringi oleh berbagai kritikan dan persoalan teknis maupun non teknis, baik dalam tataran domestik ataupun internasional, Brasil mampu menyuguhkan atraksi yang menarik dalam gelaran pembukaan olimpiade (5/8).

Dengan bertajuk olimpiade Rio 2016 Brasil seolah ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat dunia untuk hadir dan menikmati keindahan negara Brasil, dengan kota Rio de Jaineiro sebagai etalase terdepannya. Mengapa demikian? sebab dalam dua sampai tiga tahun terakhir brasil menjadi tuan rumah dua iven olahraga terakbar dunia. Piala dunia 2014 dan olimpiade rio 2016 boleh dikatakan sebagai refresentasi dari kedigdayaan olahraga dunia, dua iven yang sarat gengsi dan prestasi.

Oleh karenanya, Brasil sekali lagi ingin menunjukkan diri-dalam konsep realisme disebut sebagai “unitary rational actor” dimana negara adalah satu satunya aktor rasional dalam dinamika hubungan internasional- bahwasanya negara mereka tengah bergelimang kemajuan ekonomi dan stabilitas politik yang kondusif-meski terkesan kontradiktif dengan fakta di lapangan.

Ada konstruksi berpikir yang nantinya disebarkan kepada negara negara peserta olimpiade, Brasil adalah negara yang kuat dan punya pamor di pentas internasional. Meski tidak sampai memberikan efek hegemoni, pesan ini cukup untuk menjadi alat diplomasi Brasil dengan negara-negara lain.

Namun, kita tidak akan mengulas kedigdayaan brasil yang  mampu berturut-turut menjadi tuan rumah dari perhelatan olahraga akbar dunia. Penulis ingin menyoroti adanya sesuatu yang berbeda dari pelaksaan olimpiade Rio 2016 kali ini. Yakninya diberikan kesempatan tampil bagi atlet yang berasal dari camp-camp pengungsian. Mereka berjuang dibawah bendera komite olimpiade internasional (IOC). Bahkan, bila anda ingat siaran langsung opening ceremony olimpiade rio lalu, sambutan dari penonton sangat luar biasa besarnya bagi atlet-atlet pengungsi ini (refugee team).

Peristiwa mengharukan yang pertama kali ada, sepanjang sejarah olimpiade yang telah berlangsung semenjak tahun 1896 di Athena, Yunani. Kontingen pengungsi yang terdiri dari 10 atlet disebut mewakili semangat solidaritas Olimpiade sekaligus mengirimkan harapan bagi jutaan pengungsi di seluruh dunia.

Hal itu disampaikan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, dalam pidato pada acara pembukaan Olimpiade 2016 di Stadion Maracana

“Anda harus melarikan diri dari negara Anda karena kekerasan, kelaparan, atau hanya karena Anda berbeda, Dalam ranah Olimpiade, kami tak hanya menoleransi keberagaman, tapi kami juga menyambut Anda sebagai pengayaan pada kesatuan dan keberagaman kami,” kata Bach.

Adapun kesepuluh atlet tersebut berasal dari berbagai kamp pengungsi dan akan mengikuti 3 cabang dari 12 cabang yang dipertandingkan. Mereka terdiri dari beberapa atlet dari kamp pengungsi Kakuma di Kenya, dua perenang Suriah, dua judokas (atlet judo) dari Republik Demokratik Kongo, dan seorang pelari maraton dari Ethiopia. Rose Lokonyen Nathike, pelari 800 m memimpin timnya dengan membawa bendera olimpiade.

Humanisme universal

Olahraga sebagai satu kesatuan utuh dari kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari atlet yang ambil bagian serta aksi-aksi kemanusiaan diluar dari semangat sportifitas dan pertandingan. Ada yang lebih besar maknanya dari sekadar hasil akhir dari pertandingan. Yakninya, kemanusiaan (Humanisme).

Dalam beberapa kesempatan atlet-atlet dari berbagai cabang dan iven olahraga seringkali menunjukkan peran yang berbeda. Sebagai atlet memang mereka mesti bertanding dan menang, namun sebagai manusia mereka tidak bisa menafikan diri untuk menjadi agen bagi inspirasi perdamaian dunia (peacemaker).

Adalah muhammad ali salah satunya, legenda tinju dunia yang meninggal juni lalu, mendedikasikan dirinya untuk aksi-aksi kemanusiaan. Ia sangat konsen mendukung tuntutan masyarakat afro-amerika yang mengalami dikriminasi rasial. Juga upayanya dalam menangkis setiap tuduhan kepada islam sebagai agama terorisme.

Dan tak kalah humanisnya, dikala perang Vietnam tengah berkecamuk, Muhammad Ali menolak untuk ambil bagian sebagai prajurit militer amerika. Baginya, rakyat Vietnam tidak pernah menindas apalagi memerangi rakyat Amerika Serikat, sehingga ia tidak perlu turut campur pada perang Vietnam.

Selanjutya, Dunia pasti mengingat momentum bersatunya dua Korea pada pelaksanaan Olimpiade Sydney 2000. Momen perdamaian yang begitu menginspirasi. Dua korea yang selama ini bertikai, bergabung sewaktu defile kontingen. Bukan dengan membawa bendera masing-masing, namun satu dalam bendera baru yang mengusung tajuk sebagai semenanjung Korea Bersatu. Dunia berdecak kagum dengan aksi humanisme yang ditampilkan ini, meski sesaat.

Tentu banyak aksi humanis atlet olahraga dunia yang luput dari pemberitaan media. Dua  inspiring story diatas hanyalah sekelumit dari kontribusi olahraga bagi kemanusiaan. Tanpa membedakan rasial, latar belakang, agama dan ideologi, apa yang diperlihatkan adalah pesan penting dari olahraga untuk perdamaian dunia, dan itu mesti dimulai dengan menghilangkan sekat pembatas yang selama ini mengganjal untuk kemudian menyebarkan semangat humanisme universal.

Namun akan selalu ada peran antagonis dibalik pesan damai dan humanisme universalsepanjang pelaksanaan olimpiade. Tragedi naas black september pada olimpiade munchen 1972 menjadi catatan kelam tersendiri sepanjang sejarah olahraga dunia. 11 atlet olimpiade israel dibunuh oleh kelompok teroris radikal, yang kemudian berakhir dengan aksi balas dendam agen rahasia israel Mossad, melalui Operasi Murka Tuhan (the wrath of god operation) untuk mencari dan membunuh dalang dari tragedi black september.

Belajar dari Olimpiade Rio 2016

Olimpiade Rio 2016 bisa menjadi preseden baik kedepannya. Kirab akbar yang mempertemukan masyarakat dari berbagai bangsa dan negara mesti dimanfaatkan juga sebagai wadah untuk menyebarkan Solidaritas Kemanusiaan. sekitar 200 lebih negara turut serta dalam ajang olahraga terakbar sejagat raya, momentum pertemuan berbagai latar belakang budaya, ras, suku bangsa, agama dan bahasa dipersatukan oleh satukan even olahraga.

Kita tentu tidak pernah membayangkan bila foto “selfie” dua atlet senam asal korea utara dan korea selatan akan menjadi viral di dunia maya (Huffingtonpost, 8/8). Sekilas memang foto tersebut terlihat biasa, namun bila didekonstruksi lagi ada pesan damai yang ingin disampaikan untuk kedua negara yang tengah berkecamuk konflik tersebut. Dua atlet ini adalah wajah dari kerinduan rakyat dua negara untuk hidup bersama sebagai satu bangsa Korea (Unifikasi Korea).

Pada akhirnya, oimpiade dan ajang olahraga dunia, bukan lagi perkara hasil akhir dan kemenangan, bukan pula tentang kompetisi dan semangat bertanding, namun ada hal yang lebih dari itu, yakninya nilai kemanusiaan yang menyatukan semua bangsa. Ciri masyarakat kosmopolitan akan nampak, semua atlet yang menjadi agen dari negaranya membaur bersama untuk membentuk satu komunitas masyarakat dunia demi terwujudnya kemanusiaan dan perdamaian dunia.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)