Papua Sport

Disorda Papua dinilai gagal dalam dua aspek

george kaiba | Senin, 16 Oktober 2017 - 22:41:21 WIB | dibaca: 178 pembaca

Jayapura, Jubi - Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Papua, Tery Wanena menyatakan prihatin atas kondisi yang terjadi di dinasnya itu.

Tery prihatin, sebab selama kepemimpinan Kadisorda sebelumnya, kondisinya lebih terbuka. Dimana rasa saling menghargai dan dihargai dalam pekerjaan atau kebijakan.

Semua kegiatan yang ada di Disorda berjalan baik.Tetapi sejak kepemimpinan dua tahun terakhir dinas ini tidak maksimal.

Pertama gagal dalam pembinaan pestasi kelompok umur serta gagal dalam membina para staf. Sebagai seorang pemimpin harusnya duduk, panggil dan harus bicara dari hati ke hati. Semua kegiatan harus dibicarakan bersama-sama.

Kepala dinas sebagai pimpinan harus panggil kami sebagai bawahannya untuk kita bersama-sama mengatur seluruh kegiatan. Tetapi yang terjadi, semua kegiatan dilaksanakan tertutup.

Salah satu contoh, Tery menyebut, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Disorda untuk pagu anggaran tahun lalu dan tahun ini, sampai saat ini sebagai kepala bidang bahkan pejabat yang lain tidak mengetahui.

"Tidak tahu DPA-nya dimana dan berapa. Siapa yang tangani. Kegiatan yang dikerjakan siapa. Siapa yang kontrol. Tidak jelas di dinas ini?," ungkapnya kepada wartawan, Jumat (13/10/2017).

Kondisi ini bila dibiarkan terus-menerus, tidak akan ada perubahan berarti. Kita harus evaluasi dan introspeksi diri.

Terkait prestasi yang jeblok di Popnas.Tery Wanena menilai kegagalan itu disebabkan karena masalah kebijakan dan manajemen.

"Saya sebagai kepala bidang olahraga prestasi yang secara teknis langsung berhubungan dengan kegiatan ini. Kita yang persiapkan dan tangani anak-anak, tapi SKnya saya tidak pernah tahu," bebernya.

Awalnya TC Popnas dijadwalkan berlangsung tiga bulan, tapi akhirnya hanya bisa dilakukan 1 bulan.  Tentu hal ini tidak maksimal, merujuk pada kegagalan Papua di Popnas kemarin.

Rosmina Sanggrangbano, pelatih dayung Popnas menilai kegagalan anak didiknya karena sejumlah faktor. Diantaranya waktu persiapan hanya satu bulan serta perubahan jarak tanding.

“Anak-anak kami latih jarak tempuh 1000 meter, tetapi saat meeting sebelum pertandingan oleh panitia dan PB PODSI jaraknya dirubah 2000 meter,” ucapnya.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)